BILAL BERKISAH
TENTANG SERUAN MUHAMMAD SAMPAI TAKLUKNYA HATI ‘RAKSASA-RAKSASA’
Yang kukisahkan ini kuperoleh dari suatu sumber yang terpercaya. Kisah ini aku terima
dari Abu Bakar, yang didengarnya dari Zaid, dan Zaid mendapatkannya
dari Ali yang menerima kabar dari Khadijah. Sedangkan Khadijah sendiri
mendengar kejadian ini langsung dari Muhammad, orang yang mengalaminya.
Lebih jauh, pada bagian kedua kejadian ini, ditegaskan Allah dalam
delapan belas ayat Surat An-Najm. Sehingga merupakan kebenaran dan bukti
agama yang tidak dapat dibantah.
Muhammad tengah sendirian di dalam suatu gua di gunung Hira ketika Malaikat Jibril datang menjumpainya.
Jibril berkata, “Bacalah”
Muhammad menjawab, “Aku tidak bisa membaca”
Jibril memerintahkan lagi,
“Bacalah dengan nama Tuhanmu,
Yang mencipta manusia dari setetes darah,
Yang mengajari manusia apa yang tak ia ketahui,
Bacalah!”
Namun Muhammad masih juga menjawab, “Aku tak bisa membaca...”
Kemudian Jibril merengkuhnya, mendekap serta menekannya dengan erat
sampai ia berpikir bahwa ia akan mati. Tetapi dalam keadaan yang sudah
payah, Jibril melepaskan rengkuhannya lalu meninggalkan gua. Muhammad
mengetahui bahwa suatu amanat dari Allah atas manusia telah digariskan
pada dirinya. Namun ia belum tahu apa amanat itu.
Ia tak mampu
memikul beban itu. Ia ingin bunuh diri saja. Ia mendaki ke atas gunung
yang bertebing curam, dari tempat mana ia hampir meloncat karena
kekalutan. Namun baru setengah perjalanan, Jibril kembali menampakkan
diri. Sekarang ia melihat Jibril lebih jelas dalam sosok seorang manusia
yang sedang berdiri di ufuk langit dengan kaki terkangkang. Kemana pun
pandangan ia lepaskan, kemana pun wajah ia palingkan, ke utara, ke
selatan, ke timur atau ke barat, senantiasa ia melihat Jibril.
Kembali ia mendengar suara Malaikat itu, “Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan aku adalah Jibril.”
Ia bergegas pulang, menyembunyikan diri di bawah selimut dengan
menggigil. Apakah ini kebenaran dari Tuhan ataukah hanya tipu daya yang
dijalankan iblis? Apakah pikirannya sudah tidak waras? Apakah itu hanya
angan-angannya? Apakah telah terjadi gangguan pada otaknya? Hanya satu
yang ia tahu, dirinya hanya manusia biasa...
Ia menutupi
dirinya dengan beberapa selimut. Waktu itu Khadijah berlari
menghampirinya, dan Muhammad menceritakan kepadanya apa yang telah
terjadi. Muhammad meletakkan kepalanya ke pangkuan Khadijah, lalu Nabi
menceritakan segala apa yang dialaminya.
Tentang hal itu pun,
banyak orang yang membesar-besarkan dan membumbuinya dengan berbagai
cara di tiap kesempatan. Mereka mengatakan Malaikat itu mengikuti
Muhammad sampai ke rumahnya dan berdiri di tempat yang hanya dapat
dilihat Muhammad. Muhammad menunjuk tempat itu, namun Khadijah tidak
dapat melihatnya. Khadijah mendudukan Muhammad pada kedua lututnya.
Kemudian ia menanggalkan pakaiannya untuk memperlihatkan tubuhnya
sehingga malaikat itu menghilang. Khadijah membuktikan bahwa roh itu
baik...kalau roh jahat maka akan tetap tinggal untuk melihat, sedangkan
roh baik, akan menyingkir karena malu. Namun cerita-cerita yang
mengasyikkan itu tak selalu merupakan cerita yang sebenarnya. Kubuang
saja cerita-cerita itu di kepulan asap api unggun..
Aku hanya
akan memaparkan apa yang kuketahui. Allah telah melimpahkan anugerah
kepada Khadijah rasa pengertian yang dalam. Ia menghibur hati suaminya
untuk mengurangi rasa takutnya, meyakinkan perasaannya yang tidak
menentu. Ia mampu memahami suatu misteri dan lebih dari itu semua,
ketika Muhammad sendiri masih diguncang ketidak-mampuan dan keraguan,
Khadijah sudah meyakininya.
Ia mengokohkan hati Muhammad. Ia
katakan bahwa jika Tuhan itu benar-benar Allah, Allah tak akan menipu
manusia yang berada dalam langkah yang benar. Sepanjang malam ia
meyakinkan Muhammad apa yang dikatakan Malaikat, “Muhammad...engkau
adalah utusan Allah.”
Orang menyebut malam itu malam Lailatul
Qadar. Malam yang penuh dengan kemuliaan. Di malam itu, Allah
menganugerahi manusia cahaya-Nya. Di malam itu, Allah memperkenankan
Jibril membawakan Risalah Suci. Di malam itu, Allah memberkati Muhammad
Rasul-Nya, dengan pengetahuannya yang pertama. Di malam itu, Khadijah
meyakini ajaran Nabi, diangkat menjadi ibu Kaum Beriman. Di malam itu,
Allah melimpahkan kemurahan-Nya bagi manusia.
Tak seorang pun
mengetahui dengan pasti, kapan tepatnya malam itu. Di bulan Ramadhan,
ya...Ramadhan adalah bulan orang berpuasa, bulan turunnya wahyu, dan
bulan penuh misteri. Ramadhan memiliki tiga puluh malam, dimulai dan
diakhiri oleh bulan yang lain. Malam dari segala malam, malam penuh
Keagungan yang bersembunyi di antara malam-malam yang tiga puluh itu.
Sebagian orang mengatakan itu terjadi di malam ketujuh belas, yang lain
mengatakan malam kedua puluh tiga, atau kedua puluh lima, sedang ada
pula yang mengatakan di malam kedua puluh tujuh. Di dalam Al-Qur’an
dinyatakan bahwa malam itu lebih mulia dari seribu bulan...namun hanya
Allah-lah yang Mahatahu kapan turunnya malam itu.
Sejak itu,
aku berkali-kali mengunjungi gua Nabi. Mulut gua itu amat rendah
sehingga untuk masuk dan berada di dalamnya engkau harus membungkukkan
badan. Inilah tempat pertama turunnya wahyu, sebuah auditorium langit.
Setiap kali aku mendaki, aku merasakan kedua lututku mulai lemas dan aku
harus menggenggam sesuatu, takut terjatuh. Kejadian yang sama kadang
kala terjadi bila aku melihat sesuatu yang sangat indah...dan, untuk itu
pun, aku harus menjaga agar aku tetap berdiri. Saat-saat terbaik kita
seringkali melumpuhkan kita..
Dari puncak gunung itu seseorang
dapat memandang jauh, melewati puncak-puncak lainnya yang kecil. Dari
Hira engkau memandang ke sekitar coklatnya tanah Hejaz yang jauh, tempat
para suku melakukan kegiatan, tempat para kafilah mengembara dan para
penggembala melepaskan gembalaannya sejak zaman dulu. Inilah dunia yang
dihamparkan penuh pesona dan kesibukan, penuh kekerasan dan keserasian.
Sedangkan di puncak gunung itu semua kesibukan berlangsung dalam
keheningan, tak ada perselisihan atau suara manusia yang mengusikmu.
Telingamu hanya terbuka bagi Allah...
KESAKSIAN BILAL TENTANG TURUNNYA WAHYU
Engkau mungkin merasa iri kepada kami, yang merasakan cahaya
kebahagiaan pertama dari Islam. Namun engkau harus menaruh belas kasihan
pada kami. Kami bergetar kalau-kalau jiwa kami tak pantas untuk
menerima pengetahuan itu..bahkan Nuh pun lari untuk menyembunyikan diri
karena mendekatnya Cahaya Ke-ilahian. Kami adalah orang-orang yang
berpengetahuan terbatas, tak seorang pun di antara kami memiliki
kemampuan yang cukup untuk merumuskan suatu aturan, yang sedikit banyak
dapat diterapkan menjadi sistem pengetahuan yang berakhiran “logi” atau
“isme”, untuk kebenaran-kebenaran yang teramat jelas diketahui di dalam
hati kami. Sekarang ini, anak-anak muda mengetahui segala hal...bahkan
aku menjumpai anak laki-lakiku sedang disibukkan oleh sudut-sudut dan
segitiga...kepalanya yang kecil menampung fakta-fakta sebanyak muatan
unta. Namun bila dibandingkan dengan ayat-ayat awal, hanyalah segenggam
kecil pelita yang hampir tak berarti...
Katakan bahwa Allah itu Satu
Allah yang senantiasa Kekal
Ia tak diperanakkan
Tak pula Ia beranak
Tak satu pun menyamai-Nya
Berkali-kali aku melihat saat-saat wahyu diturunkan kepada Muhammad,
utusan Allah. Dengan tiba-tiba ia mulai menggigil dan melihat ke
sekeliling mencari tempat untuk bersembunyi. Di malam-malam yang sangat
dingin pun kulihat keringat di wajahnya, seperti ada perasaan sakit
menyerangnya, tubuhnya menggigil, kedua tangannya mencengkram sisi-sisi
tubuhnya yang kejang. Ia dapat terbaring selama satu jam tanpa mendengar
suatu kata yang dikatakan kepadanya...mengapa tidak? Ia yang
mendengarkan panggilan para malaikat akan tuli terhadap manusia...
Ia tak pernah tahu kapan wahyu akan diturunkan. Ia bisa menerima di
tengah percakapan, atau sedang berjalan di sekitar rumah bahkan sedang
menunggang untanya. Di saat seperti itu, ia segera turun dan menyelimuti
diri dengan jubahnya. Permulaannya kadangkala, ia mendengar bunyi
lonceng atau kepakan sayap, atau bunyi yang menyerupai gemercingnya
rantai. Seringkali malaikat itu menampakkan diri dan berkata langsung
kepadanya, namun kami yang berada di sekitarnya dengan jarak jangkauan
tangan tak pernah melihat atau mendengar sesuatu pun.
Wahyu-wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi-Nya tidaklah dalam bentuk
kata-kata sebagaimana yang kita pergunakan di antara kita. Yang pasti
melalui mulut yang telah diciptakan Allah yaitu sebentuk lubang berongga
yang terletak di kepala kita. Ayat-ayat itu ditanamkan ke dalam hati
Muhammad, dan hanya setelah Nabi sadar dan berada di sekeliling kami
lagi, Allah mengizinkan untuk menuturkannya kembali dalam kata-kata.
Namun tak satu suku kata, satu kata benda atau kata kerja pun menyimpang
dari rangkaian yang sesungguhnya. Waktu itu juga, firman-firman
tersebut ditulis di kulit, di pelepah pohon, atau di tulang-tulang
pundak domba...apapun yang ada di sekitar kami. Semuanya sebagaimana
Jibril berikan, tak ada sedikit pun yang menyimpang..
Ketika
aku melihat ia mengalami penderitaan sebagaimana manusia biasa, aku
harus mengakui, kadangkala rasa hormatku akan kenabiannya diganti rasa
cintaku kepadanya sebagai manusia. Aku ingin menghampirinya, namun kedua
kakiku diam terpaku...siapa yang dapat menentang kehendak Allah? Ia
bercerita kepada kami apa yang ia alami pada “saat-saat khusus”
demikian. “Aku tak pernah meneriman wahyu”, katanya, “tanpa terlebih
dulu merasa jiwaku terlepas dari dariku.”
Wahyu demi wahyu
turun, sampai langit sendiri terlihat begitu sibuk, dan kami hidup dalam
sukacita. Kami masih muda, kami tegak berdiri pada masa permulaan.
Setiap fajar mendorong kami untuk maju. Namun kami tak melihat matahari
menari, karena Al-Qur’an adalah mukjizat tanpa peristiwa yang
menghentak, suatu kemenangan tanpa iring-iringan, bahkan sebuah buku
tanpa penulis...
BILAL BERKISAH TENTANG KEBENCIAN DI MAKKAH
Mengapa mereka membenci kami? Mereka toh bukan orang-orang jahat,
mereka juga bukan pengikut tradisi purba, bahkan bukan pula pengikut
tata krama yang sudah usang. Mereka mengikuti adat istiadat
keramah-tamahan dan mematuhi aturan hormat menghormati, kewajiban untuk
memberi dan menerima yang berlaku dalam kehidupan di gurun pasir.
Kekerasan hati mereka terutama sebagai akibat dari kerasnya penghidupan
mereka, sebagaimana para penunggang keledai adalah orang yang memberikan
lecutan paling keras.
Mereka tidak membenci kami dan Tuhan
kami yang Tunggal karena mereka mencintai berhala-berhalanya. Dalam
penyembahan berhala, rasa cinta terhadap tuhan-tuhannya tak pernah
sungguh dalam. Sembahan-sembahan itu mereka mintai pertolongan,
sekaligus mereka beri sesaji. Itulah sistem pertukaran, suatu sistem
perjanjian antara saudagar dengan iblis. “Aku akan menyembahmu,
Hubal...menghormatimu, memberimu sesaji dan menjaga kelangsungan hidupmu
dengan mengunjungimu,.....jika engkau mau menolong menemukan untaku
yang hilang.”
Namun aku, Bilal, yang pernah menjadi penyembah
berhala, tak boleh terlalu mudah berurusan dengan mereka atau aku akan
terjebak dalam kebodohan. Aku harus mengisahkan kepadamu dengan terus
terang tentang kekuatan dan kerapuhan berhala-berhala.
Kita
berbicara tentang berhala yang dibuat dari kayu dan batu, namun tak ada
penyembah berhala yang begitu bodoh untuk menyembah batu yang bisa ia
pecahkan atau menyembah kayu yang bisa ia bakar. Ia membayangkan ada roh
yang tinggal di dalam kayu dan batu, dan roh itulah yang disembah.
Masih kisah tentang betapa rapuhnya berhala itu.. Berhala-berhala
memiliki tempat tinggal seperti Ka’bah dan kekuasaannya tak berlaku bagi
berhala yang lain, pada tempat penyembahan lain, pada kelompok suku
lain, bagi kita dan bagi tuhan yang lainnya. Berhala penguasa pintu di
Makkah, tak berdaya apa-apa di Madinah, sekalipun untuk menutupkan
pintu. Begitulah kekuatan berhala-berhala.
Namun yang lebih
buruk lagi, berhala-berhala itu derajatnya di atas sekaligus di bawah
para pemujanya. Bahkan orang-orang Romawi, di masa kekafirannya,
mengetahui bagaimana sembahan-sembahannya begitu tergantung pada
manusia. Dewa-dewa itu kehilangan peranannya karena namanya tidak
disebut, sehingga ketika tidak disembah lagi, kehadirannya pun dianggap
tiada. Julias Caesar memiliki tuhan-tuhan dan Augustus Caesar pun
memilikinya pula. Sembahan-sembahan itu datang dan pergi seperti
bertukarnya baju toga. Manusia membuat atau meninggalkan sembahannya
teramat sederhana dengan menaikkan atau menurunkan derajatnya, orang
berlutut di hadapannya dan beranjak begitu saja. Sembahan-sembahan
merupakan kekuatan yang sangat buruk untuk diandalkan manusia. Hanya
dengan anugerah dari Allah, manusia akan menemukan kembali dirinya.
Satu alasan mengapa mereka membenci kami adalah karena ketakpahaman
mereka akan kekuatan Allah yang Tunggal. Aku teringat bagaimana mereka
terguncang hatinya ketika Muhammad berceramah tentang kebangkitan
setelah mati. Sekali waktu Abu Lahab, yang begitu gemuk sehingga untuk
berdiri pun harus dibantu, membawa sepotong tulang manusia ke hadapan
Muhammad dan mulai meremukkannya di antara jari jemarinya yang halus.
“Kamu bilang ini akan bangkit kembali? Apakah ini yang dapat membentuk
manusia kembali?”, tanyanya sambil menaburkan remukan tulang itu ke
wajah Nabi. Muhammad mengibaskan remukan tulang itu dan menatap pangeran
saudagar yang sedang marah dengan napasnya yang tersengal-sengal.
“Allah-lah yang menciptakan manusia di tempat pertama”, katanya, “dan
dapat membentuknya kembali seandainya Dia menghendaki.” Aku yang
senantiasa merasa takut kepada Abu Lahab dan ketakutanku mencapai
puncaknya. Tanah pijakan di sekitarnya bergetar karena dibebani bobot
tubuhnya yang melewati batas. Sedangkan setan pun mungkin baik hati. Abu
Lahab tidak mau menerima bahwa paling tidak sebagian dari kehadirannya
di dunia ini, walau bukan atas keinginannya, akan berlanjut di alam yang
lain.
Sementara itu, setiap pemuja berhala yang sering kutemui
menderita karena terlalu bangga terhadap logikanya. Ketidak-mampuan
memahami apa yang tak terlihat, menyebabkan ia berpendapat bahwa manusia
adalah segalanya dan setiap manusia adalah akhir dari riwayat hidupnya.
Dunianya kelak adalah di bawah tanah kuburan tanpa lubang. Bahkan
Julius Caesar yang perkasa pada hari kemenangannya berdiri di atas
altar, menyatakan: “Kematian adalah akhir dari segalanya.” Ini adalah
kepongahan menguasai nasib, dan keburukannya hanya bisa disamakan dengan
kenekadan dalam bunuh diri. Namun ketika manusia bisa membahayakan
jiwanya, merusaknya, menghancurkan dan menghinakannya, ia tak dapat
membunuhnya. Hanya ada harapan membunuh raga, namun tidak untuk membunuh
jiwa. Setiap manusia harus mempertanggungjawabkan jiwanya yang tak
dapat dihancurkan. Sementara itu Abu Lahab mengira ia mampu melawan
kekuasaan Allah dengan meremas sepotong tulang di antara jari jemarinya.
Namun kemurkaan Abu Lahab itu memiliki satu segi yang patut dihargai.
Ia berusaha menghapus ketak-yakinannya itu dengan mencari bukti dari
dalam kubur. Teman-temannya kurang tanggap, dan kelompok kecil kami yang
berpakaian compang-camping, menjadi sumber keriangan dan lelucon dan
menjadi suatu dalih untuk meneguk anggur lebih banyak.
Mereka
menghina, meludahi, melempari kami dengan kotoran manusia penuh
kebencian. Kami mungkin bisa mencuci bersih ludah mereka, yang semata
berupa dahak, namun penghinaan kepada Nabi menggoreskan luka yang sangat
dalam di hati kami. Bagaimana mungkin ia yang dicintai langit,
dihormati para malaikat, menjadi bahan tertawaan orang-orang yang bakal
mati? Kami hanya melihat sangkalan yang ringan. Sekalipun begitu ia
menanggung semuanya dengan kesabaran dan kelembutan. Tentunya kesabaran
adalah bekal seorang Nabi, perisai yang diberikan Allah kepadanya.
Sedangkan aku tak memilikinya...
Suatu hari Ikrimah dan lebih
dari setengah lusin lainnya mendatangiku dan menudingkan jarinya
kepadaku. Tak seorang pun mengatakan sesuatu...tak ada kata-kata, tak
ada suara, hanya senyum sinis pada setiap wajahnya. Aku kira, aku
menjadi takut. Ya, aku tergagap, terkutuklah mereka. Jika aku berpaling
ke sebelah kanan, seorang dari mereka akan menghujamkan tinjunya pada
bagian kiriku sampai aku berputar seperti gasing. Aku tak bisa menahan
kencing. Air seniku mengalir melalui kakiku. Aku terperangkap dalam
jaring-jaring tudingan dan senyum jijik mereka. Mereka tahu bagaimana
menjatuhkan dan memperlakukanku, seorang bekas budak. Mereka
meninggalkanku dengan tertawa terbahak-bahak...
Bila mengingat
kembali mereka sekarang, aku mengerti bahwa kebencian mereka kepada kami
merupakan alasan yang sangat umum. Adalah sebuah hukum yang tak
menyenangkan di mana pun kebenaran muncul, engkau akan menyaksikan
orang-orang segera ingin melenyapkannya. Seakan-akan suatu monster
datang mengancam kehidupan mereka. Kebenaran senantiasa pada mulanya
dipandang sebagai musuh dan dikejar serta selalu dibenci dan
diolok-olok.
BILAL BERKISAH TENTANG BERHENTINYA GELAK TAWA
Cepat atau lambat gelak-tawa itu akan berhenti. Abu Sufyan bukanlah
pemain komedi, yang menepuk-nepukkan pemukul lalatnya dengan gerak yang
monoton, dalam pikirannya. Sejak semula ia tahu bahwa Islam adalah suatu
revolusi. Muhammad tidak hanya menyeru tentang sistem ketuhanan yang
baru, ia pun mengajari sistem hubungan antar sesama manusia yang baru.
Islam mengatur hak milik, baik yang besar ataupun yang kecil, menurut
aturan-aturan agama. Siapa yang memiliki harus membagi pada yang tak
memiliki, apakah itu berupa uang, barang atau harta lainnya. Ya, inilah
suatu revolusi. Islam mengancam kukuhnya kekuasaan kebangsawanan kaum
saudagar, baik perseorangan maupun politik, dengan mengukuhkan hak bagi
yang lemah dan menolak hak khusus berdasarkan kesukuan. Seorang muslim
hanya mempertanggung-jawabkan dirinya ke hadapan Allah, bukan pada sanak
familinya. Tanah Arab tak dapat menerima masa depan seperti ini.
Abu Sufyan mencoba, mereka semuanya mencoba, membujuk Muhammad untuk
menerima alasan, yang tentunya berarti, alasan menurut pandangan mereka.
Mereka menawarkan kepada Muhammad kedudukan terhormat, kekuasaan,
bahkan penghasilan dari Ka’bah. Mereka kira, karena kedunguannya, bahwa
kenabian itu dapat dibeli dengan kekayaan dunia. Namun Muhammad
mengembalikan kemustahilan kepada mereka. “Sekiranya engkau letakkan
matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku tak akan
meninggalkan amanahku yang datang dari Allah.” Kemudian ia tatap mereka
dengan penuh rasa iba terhadap jiwa-jiwa mereka. “janganlah engkau
membunuh anak-anakmu”, katanya, sambil beranjak pergi meninggalkan
mereka.
Harus kujelaskan kepadamu apa makna dari kata membunuh
anak-anak, karena dalam jangka waktu tiga puluh tahun Muhammad telah
memutar dunia ini begitu cepat sehingga kadang-kadang aku bertanya
apakah aku masih berjalan di atasnya dan tidak terlempar di antara
bintang-bintang?
Maksud dari apa yang ia katakan, tepat sekali.
“Jangan membunuh anak-anakmu”. Di tanah padang pasir sebelum Islam,
nasib seorang anak diketahui bahkan sebelum semua jari kakinya keluar
dari badan ibunya. Jika yang lahir laki-laki ia selamat dan akan
dipestakan....jika wanita, keamanannya terancam dan tersebarlah
desas-desus. Jika mereka sudah cukup memiliki anak gadis dalam keluarga
atau terlalu banyak dalam kemah-kemah sukunya, nasibnya akan malang.
Setelah mereka memotong ari-arinya, bayi perempuan itu akan dibawanya ke
tengah gurun pasir, dan pasir akan menimbuni tubuhnya.
Mereka
tak akan menjadi pembunuh-pembunuh tanpa maksud tertentu, dan argumen
mereka tentang pembunuhan bayi wanita, tentunya masuk akal. Mereka
mempertahankan hidup dengan cara demikian, kehidupan ekonomi padang
pasirlah yang menentukan mereka bertindak begitu, bukan mereka
sendiri....nganga mulut yang baru berarti kekosongan bagi perut yang
lain...disamping itu wanita akan menambah keturunan dan melipatgandakan
kaum mereka sendiri. Demikian terus-menerus mereka melakukan itu untuk
merubah ketentuan Allah. Lebih banyak wanita dilahirkan dibanding
laki-laki...mereka ingin memperbaiki ketidak-seimbangan ini. Beberapa
gadis tentunya ada pula yang diberi kesempatan menempuh kehidupan akil
balignya, yang nantinya untuk kepentingan mereka juga.
Amat
menyedihkan mendengar kenyataan ini. Gagasan penciptaan bagi mereka tak
mempunyai arti kesucian. Lalu siapa yang dapat meneriakkan noda ini pada
mereka? Ketika Muhammad menyerukan kesamaan hak kaum wanita di tanah
Arab, di Perancis dewan uskup-uskup gereja berembuk untuk memutuskan
apakah seorang wanita memiliki jiwa atau tidak. Aku tak tahu bagaimana
mereka menentukannya....hingga di sini, di Syria engkau bercerita
tentang segala sesuatu yang benar maupun yang tak benar. Sementara aku
sering bertanya-tanya tentang berbagai kontradiksi dalam pandangan
berbagai agama terhadap wanita, dan bagaimana mungkin orang-orang yang
begitu menghormati Maryam, ibunda Isa Almasih, dapat merendahkan Hawa,
ibunda umat manusia begitu rupa...
Yang paling membuat mereka
marah, bukanlah meniadakan berhala-berhala, atau pula keharusan untuk
memelihara anak, akan tetapi pembatasan jumlah istri. Sebelum Muhammad,
seorang laki-laki bisa saja kawin sebanyak dorongan pangkal pahanya atau
sebanyak perbekalan unta-untanya. Kadang-kadang seorang laki-laki
memiliki sepuluh sampai dua puluh wanita di tempat tidur yang saling
beringsut merayapi yang lainnya untuk mencapai jarak paling dekat dengan
maharajanya.
Islam membatasi jumlah istri sampai empat, dengan
anjuran bahwa lebih baik memiliki seorang istri saja. Keempat istri
harus diperlakukan dengan adil dan tuntutan kehidupan mereka juga harus
dipenuhi secara adil pula. Sekiranya tuntutan itu tak mampu dipenuhi,
seorang laki-laki hanya dapat memiliki seorang istri saja.
Apakah kaum wanita dengan serentak menyambut derajat kaum mereka yang
baru ini? Tidak!...bahkan mereka menghina Nabi. Sungguh masih terngiang
di telingaku tentang pertengkaran kaum wanita. Sekiranya istri kelima
diceraikan, siapa yang akan mengawininya lagi, siapa yang akan
mengambilnya, mendekapnya, siapa suaminya, dan yang memberinya makan? Di
padang pasir kebiasaan memperistri beberapa wanita, bukan sekedar
keserakahan kaum laki-laki, namun juga karena kedermawanan laki-laki.
Oleh karenanya, pembatasan jumlah istri pada mulanya dipandang sebagai
kelancangan, bukan merupakan kebaikan...bahkan kekejaman bagi wanita.
Muhammad tak hanya berhenti sampai disitu....bagaimana mungkin ia bisa
berhenti sampai di sana, padahal malaikat ada di atas hatinya? Ia
tegaskan bahwa wanita, betapa pun berbeda, adalah sejajar dengan
laki-laki. Perbedaannya begitu mudah untuk ditemukan, laki-laki dengan
daging tersembul dan wanita dengan daging bercelah, namun untuk
membuktikan persamaan dalam hal ini engkau harus menutup kedua matamu.
Ia mengatakan pada mereka bahwa wanita merupakan pasangan bagi
laki-laki, masing-masing adalah pelindung bagi yang lainnya. Keduanya
harus menjalani pengadilan akhir yang sama dan keduanya menyandang nasib
yang sama.
Dunia yang kini mencintai Muhammad, dulu pernah
membencinya hanya karena pandangan-pandangannya yang sederhana. Satu
zaman akan mencemooh apa yang dipuja zaman berikutnya, dan buah-buahan
pun lebih dulu akan pahit sebelum menjadi manis. Berilah kesempatan
anjing tua yang ada di tepi jalan itu untuk menggonggong. Demi Allah,
kadang-kadang aku heran, siapa sesungguhnya di antara kami, istriku atau
aku, yang telah disederajatkan-Nya. Tadi malam istriku meniup api lilin
ketika aku sedang asyik membaca buku karangan Herodotus. Sekiranya tak
kucintai istriku lebih daripada buku Herodotus, mungkin aku akan memukul
kepalanya....namun mungkin juga dia menyelamatkanku dari bacaan orang
kafir. Namun, sebagaimana pernah kukatakan, gelak-tawa itu sekarang
berhenti...
BILAL BERKISAH TENTANG PENGANIAYAAN DAN PENGUNGSIAN KE ABESINIA
Meskipun aku sudah tua, dan sudah mendekati ajal, aku tetap menentang
kekejaman. Aku mengutuk kekejaman. Aku yang sangat akrab dengan
kekejaman, melebihi orang lain, mengetahui sekali bagaimana harus berdoa
untuk menentangnya. Pasti langit mau mendengarkan orang yang memahami
makna doanya.
Aku berdoa agar si pendera dipaksa menyuapi
dirinya dalam luka tubuh orang yang dideranya. Berilah dia seulas cahaya
akan ketakpeduliannya pada sesama.
Aku berdoa agar si penggantung kepala tak memancung lehernya sendiri atau ia tak diadili peradilannya sendiri.
Biarlah mereka menunggu sampai kapak keadilan direntang untuknya.
Jangan biarkan penegak hukum membebaskan hukuman untuknya dan meneguk
keuntungan di dalamnya, karena hukuman di bumi sebagaimana juga hukuman
di langit, semuanya di bawah kekuasaan Tuhan, dan siapa yang tak
memperdulikannya, berarti tak perduli juga pada kasih sayang Tuhan.
Biarkan para pendera dikucilkan dan dua kali menghadap karena dosanya.
Aku berdoa agar mereka disiksa, walau dosa-dosanya senantiasa
melindunginya.
Itulah doa Bilal, seorang berkulit hitam yang
menjadi budak sejak lahir dan mengutuk kekejaman. Tapi aku memiliki
moral. Aku menyajikan sejarah kepadamu, dan engkau harus
mempertimbangkannya.
Tiba-tiba mereka datang kepada kami,
dengan membawa kekejaman dan pembantaian. Tak sehari pun terlewat tanpa
tindakan-tindakan ketidak-adilan terhadap jiwa manusia, hingga langit
sendiri pun menangis dalam bening mata seorang Nabi.....begitulah yang
kami rasakan, seperti kami lihat di dalam dukanya. Tapi ia tak akan dan
tak dapat menyimpang dari keyakinannya. Tuhan nampaknya hendak menyusun
perjalanan kenabian begitu menyakitkan bagai berjalan di atas batu
karang. Sedang bagi siapa yang kemudian mengikuti jalan itu, akan nampak
mudah dan bahagia dengan membawa kisah besar dan menyenangkan.
Syuhada pertama yang gugur untuk Islam adalah seorang wanita. Ia
meneguk surga, ketika Abu Jahal, seorang pemuja berhala dengan angkara
murkanya menikamkan tombak ke tubuhnya. Namanya Somaya, ibu Ammar.
Kesalahannya? Ia menolak untuk menyembah Hubal..
Yang lainnya
diikat dan dicambuk sampai mati, atau sampai menjelang ajal. Sebagian
kecil menyerah dan bersumpah menolak Islam, demikianlah, tapi aku yang
sudah terbiasa akrab dengan cambukan, dagingku tak kenal rasa nyeri
lagi. Mungkin Tuhan tak hendak menimpakan derita melebihi apa yang dapat
mereka tanggungkan. Tuhan Maha Pengasih...tak pernah membebani pundak
melampaui kesanggupannya.
Muhammad harus bertindak. Mereka
mengambil dari kami seorang demi seorang. Lalu dia memutuskan bagi yang
sangat lemah, yang tak satu pun mempunyai sanak saudara yang akan
melindunginya, untuk mengungsi meninggalkan negeri. Yang lain, yang tak
terancam dilukai tanpa menanggung resiko dimusuhi sanak keluarga, atau
diserang orang sesukunya, dapat menetap untuk beberapa waktu. Aku, yang
kini dilindungi Abu Bakar, memilih untuk tinggal.
Di suatu
malam, Jaafar, saudara tua Ali, bersama sepuluh laki-laki dan tiga
wanita menyelinap menuju sebuah gurun. Tujuan mereka adalah Abesinia,
sebuah negeri di seberang laut yang tak pernah kutahu, yang diperintah
seorang raja beragama Nasrani yang terkenal keadilannya. Mereka tak
berani menempuh jalur perjalanan biasa, dan yang ditempuh adalah bagian
gurun yang paling gersang, yang tak ada mata air maupun penghuni. Dapat
dikatakan rombongan pertama pengungsi ini hanya dinaungi kepakan-kepakan
sayap burung nasar, yang menunggu kematian diantara para pengungsi.
Akan tetapi lebih banyak mata di kota kecil daripada di kota besar.
Pengungsian itu segera diketahui. Abu Sufyan bergegas mengirim sepasukan
orang berkuda untuk menyeret mereka kembali, atau jika perlu menghabisi
mereka di padang pasir sana. Pengejaran hampir berhasil, jejak kaki
para pelarian sudah ditemukan, dan jarak antara mereka tinggal satu mil
saja. Tapi Tuhan tak mengijinkan mata mereka melihatnya atau kuda mereka
menciumnya. Jaafar melintas tanpa terluka di antara derap kaki kuda dan
pedang terhunus, dan jika engkau ingin mempercayai mukjizat, dengan
peristiwa ini engkau dapat mempercayainya. Aku cenderung mempercayai
kemampuan Jaafar memanfaatkan gurun pasir, yaitu memanfaatkan silaunya
lecutan sinar matahari, serta bayang-bayang bukit yang memanjang. Jika
itu mukjizat, Jaafar-lah mukjizatnya, ia dapat bersembunyi di balik
bayangannya. Tapi, tak diragukan lagi, Tuhan mengkaruniai Jaafar
kecerdasan.
Ketika kami lihat pasukan berkuda yang dikirim Abu
Sufyan kembali ke Makkah dengan tangan hampa tetapi mata pedih, kami
mengambil kebijaksanaan untuk mengirim pelarian lagi. Kami mulai
memberangkatkan yang lainnya sebanyak delapan puluh tiga orang,
laki-laki dan wanita, melintasi Laut Merah menuju Abesinia.
Tapi di Abesinia mereka tidaklah aman. Di negerinya, suara Abu Sufyan
semakin perlahan, rendah namun lebih berbahaya. Menurut kabar yang
kudengar, di saat itu engkau harus lebih mendekat untuk mendengar
kata-katanya. Bila kau duduk menyandar, kata-katanya hanya akan
menggapai di depanmu, dan kau tak mendengar apa-apa. Tapi bila kau agak
mendekat, maka getar suaranya akan terdengar begitu jelas, tajam dan
bening dalam susunan kalimat yang baik. Engkau tahu, kehormatannya
sedang terguncang. Makkah tak dapat membiarkan delapan puluh tiga orang
yang tak sepaham melarikan diri ke negeri tetangga....ini berakibat
buruk bagi perdagangan. Jika gagal menangkap mereka di gurun atau di
lautan, maka para pengejar akan mencari mereka di negeri
persembunyiannya, di bawah perlindungan raja yang menamakan dirinya
Singa dari Judah.
Segera utusan yang dipimpin Amr ibn al-Ass
dikirim menghadap Singa Judah disertai segala persembahan, permintaan
maaf dan salam persahabatan. Amr, yang pernah menaklukkan Mesir, adalah
seorang pemuda yang lembut dan memiliki segala kecakapan. Segala puji
bagi Allah, Amr kemungkinan besar dapat berhasil atau jika tidak,
berarti dia akan menggiring delapan puluh tiga jiwa dalam belenggu
rantai bersama jiwanya sendiri menuju api neraka. Sebagaimana yang
kuceritakan kepadamu, Tuhan menganugerahi Amr kegagalan yang penuh
rahmat.
Raja memanggil kaum muslimin menghadap kepadanya dan
menanyakan alasan mereka tidak mau kembali ke kota Makkah dalam keadaan
dirantai. Jaafar yang malang sebagaimana Daniel dalam cengkeraman singa.
Ia menjadi gugup, sekujur tubuhnya bergetar, bahkan dia hampir jatuh
rubuh, sangat sulit baginya mengucap satu dua patah kata pun atau
menyangga kedua kakinya supaya tetap berdiri.
Amr segera tampil
dengan wajah penuh kemarahan, mengemukakan pendapatnya dengan
memutar-balikkan fakta, sehingga kenabian nampak seperti keledai dungu
yang ditungganginya. Dia menuduh Jaafar menghasut, memanfaatkan dalih
dari nabi palsu untuk meruntuhkan golongan sosial, pemfitnahan,
berkhianat, dan pada akhirnya dengan tegas mengungkap absurditas seluruh
ajaran Islam. Amr tentunya, sebagaimana pemuja berhala, terlalu sedikit
mengetahui masalah keagamaan, dan terlalu banyak berolok-olok. Dalam
beberapa menit saja ia berhasil membuat seluruh keluarga Abesinia
tertawa dan rantai untuk Jaafar segera disiapkan. Tapi Tuhanlah yang
memberikan kepandaian pada manusia, juga memberikan kedunguan, dan
kadangkala Dia satukan keduanya itu dalam satu batok kepala. Begitulah
yang terjadi pada Amr, kemenangan terlepas ketika sudah dalam
genggaman...atau, menurut keyakinanku sekiranya aku hadir di sana,
Jaafar menang ketika telah kalah.
Begini kejadiannya....Jaafar
berbicara tentang Isa Almasih, sebagaimana kepercayaan kita sebagai
muslim mengenai Isa. Beliau adalah seorang Nabi di antara rangkaian Nabi
sebelum Muhammad. Sedemikian besar ia dicintai oleh umatnya, sehingga
umatnya berbuat salah, yaitu memujanya.
Begitu pula di
Abesinia, Isa dicintai tak terhingga dalamnya, dengan mengucap namanya
saja, raja yang beragama Nasrani itu bisa menitikkan air mata. Amr
melihat titik air mata itu, tapi ia mengira sebagai kilauan
belaka...tentunya kebutaan hati merupakan keadaan yang sedemikian
buruknya sampai Isa sendiri mengorbankan sebagian tubuhnya, yaitu air
ludahnya, untuk mengobatinya. Hati Amr pada saat itu pun menjadi buta.
Dia melemparkan jubahnya dan berdiri dengan kaki mengangkang seperti
algojo dengan kapaknya, begitu cerita Jaafar kepadaku.....kemudian ia
mengungkapkan hal yang ia sangka sebagai senjata pamungkas. “Mereka
berdusta tentang Isa”, begitu katanya. “Mereka mengatakan Isa-mu hanya
seorang Nabi dan bukan anak Tuhan. Menurut mereka, engkau memuja tiga
tuhan, satu bapak, satu anak, dan satu lagi tak nampak. Mereka menolak
ketuhanan Isa-mu dan mengatakan sebagai manusia yang telah mati.”
Demikian baik kata-kata pemuja berhala itu, seolah-olah ia begitu
memahami dalamnya ajaran yang dikandung agama....begitu tepatnya dia
menyuguhkan pemahaman kaum muslimin tentang Isa yang bertentangan dengan
pemahaman kaum Nasrani yang memandang Isa sebagai Tuhan. Kemudian raja
berpaling kepada Jaafar, “Ceritakan kepadaku tentang kelahiran raja kami
ke dunia.” Pada kata “ke dunia”, ia mengangkat tangannya dan
melambaikan kepada petugas penjara agar maju ke depan. Namun Jaafar
menolak kawalan petugas penjara.
“Akan kuceritakan kepadamu apa yang dikatakan Al-Qur’an tentang kelahiran Isa, yang kesemuanya kuketahui.”
Itu lebih merupakan teriakan keputus-asaan, namun teriakan itu membuat
raja mengangkat mukanya. Jaafar menemukan kata-katanya...dia harus
bicara. Satu-satunya harapan adalah berbicara, berbicara dalam belenggu
rantai, berbicara kepada raja yang tersinggung, berbicara tentang tahta
kepada empat ekor singa yang garang. Maafkan atas keterpaksaanku
mengungkapkan ini, menurut beberapa kabar, dia berbicara sebaik
Bilal...begitu pula menurut penuturan Amr ibn al-Ash sendiri kepadaku
sepuluh tahun kemudian. Namun Bilal hanyalah sebuah corong, seorang
muadzin yang menyeru untuk shalat, seorang yang mempunyai kemampuan
berbicara dari ketinggian....sedangkan Amr mampu menangkap lebah dalam
sarang madunya..
Pada hari itu Jaafar mengetahui bagaimana cara
berbicara untuk meyakinkan, seperti orang yang tak punya pilihan lain.
Ia tuturkan di hadapan wajah-wajah yang penuh keharuan, ayat demi ayat
surat Maryam, surat ke-19 yang mengisahkan kelahiran Isa dari rahim
seorang perawan. Ia menyuguhkan ayat demi ayat yang sesuai dengan
pemahaman mereka, sehingga mereka menyadari, semua itu adalah ucapan
Allah, bukan “Tuhan Bapak”, melainkan Allah sendiri...
“Dan ingatlah (cerita tentang) Maryam dalam Al-Kitab
Ketika ia menyingkir dari keluarganya ke suatu tempat di timur.
Dipasangnya tirai (untuk melindungi dirinya) dari mereka
Lalu kami utus kepadanya Ruh Kami (Jibril) yang menjelma di depannya
Sebagai manusia sempurna.
(Maryam) berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Pemurah terhadapmu
(Janganlah dekati aku) Jika kau bertakwa’
(Jibril) menjawab: ‘Aku hanya pesuruh dari Tuhanmu untuk memberikan seorang putra yang suci kepadamu’.
(Maryam) berkata: ‘Bagaimana aku dapat peroleh anak, sedangkan tiada laki-laki menyentuh daku dan aku bukan seorang pelacur?’
(Jibril) berkata: ‘Demikianlah!’ Tuhanmu telah berfirman: ‘Itu gampang bagiku.’
Dan kami hendak menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan suatu rahmat dari Kami. Dan itu adalah keputusan yang ditetapkan.
Maka (Maryam) pun mengandung dan ia menyingkir dengan (kandungan)nya ke tempat yang jauh.
Karena sakit akan melahirkan, ia pun menuju sebatang pohon kurma.
Katanya: ‘wahai! Sekiranya aku mati sebelum ini, sekiranya aku dilupakan dan tiada diperhatikan!’
Maka (suatu suara) memanggilnya dari bawah: ‘Janganlah bersedih hati. Tuhanmu telah menjadikan seorang yang mulia di bawahmu.
Goyanglah batang kurma ke arahmu. Akan gugur di atasmu kurma segar yang
matang. Maka makanlah dan minumlah dan senangkanlah hatimu.’”
Seluruh keluarga istana larut dalam tangis dan keharuan, kemudian Singa
Judah turun dari singgasana memeluk Jaafar. Sebagai gantinya rantai, ia
mendapatkan tangan raja yang memeluk tubuhnya. “Untuk segunung emas pun
takkan kuserahkan kau kepada mereka”, katanya, dan ditorehkannya sebuah
garis di lantai bersama pengiringnya untuk menunjukkan betapa kecilnya
perbedaan antara Al-Qur’an dengan Injil-nya. Kemudian Amr mengangguk
kepada raja dan tersenyum seakan segala yang baru saja terjadi adalah
suatu perjudian dan dadu yang dilemparnya bergulir tak sesuai dengan
keinginannya.
Itulah Abesinia, sebuah negeri singa dan
madu....juga keadilan. Sedangkan Makkah adalah sebuah kota para
khafilah dan perniagaan sutera, rempah-rempah dan wewangian, tapi tidak
keadilan, sebuah kota tanpa neraca pertimbangan. Di sini kata-kata tetap
membisu....telinga mendengarnya, tapi hati mereka tetap buta.
Penganiayaan dengan cara baru, lebih kejam daripada penderaan, sekarang
menimpa penganut Islam. Tak kurang kejamnya hukuman masyarakat. Seluruh
Bani Hasyim, kaum kerabat Nabi berada dalam pengucilan. Tak seorang pun
boleh bertegur sapa dengan mereka, memberi sekedar perlindungan dan
keramahan, sejemput garam atau segenggam gula, bahkan memberi naungan
dari terik matahari pun dilarang. Mereka dinyatakan sebagai sampah dan
diusir ke tengah gurun pasir dengan hanya membawa barang yang mampu
dipikulnya. Tak peduli apakah mereka meyakini ajaran Muhammad atau
tidak, pernah mendengarkan ceramahnya atau tidak, suka atau tidak,
mereka semua disiksa seperti Muhammad. Tidak saja cukup sampai anggota
sanak keluarga, bahkan sepupu dari sepupunya, akan menemukan dirinya
diasingkan ke gurun pasir bagaikan orang yang menderita penyakit
menular. Ini adalah jalan pintas yang amat baik bagi pembuatnya, Abu
Sufyan...yakni mengusung Islam menuju kematian karena dirinya sendiri,
karena kegilaannya di bawah terik matahari.
Tiga tahun lamanya
di padang pasir, kami diamuk lapar dan haus, berbaring di semak berduri
yang bisa dijadikan perlindungan. Anak-anak mati di terik siang hari
yang memanggang, dan orang lanjut usia menemui ajalnya di malam yang
sangat dingin. Kemana pun kami berjalan, langkah kami selalu menemui
kesengsaraan. Kami tengadah ke langit tapi tak ada manna (roti yang
jatuh dari surga) yang jatuh pada kami seperti yang terjadi pada Musa.
Tetapi, kami bertahan dan yakin, apabila kekejaman tak berhasil
mematahkan tulang punggung seseorang, maka ia akan memperkokoh tulang
belakangnya. Mungkin itu karunia yang lebih dari “manna”...
BILAL BERKISAH TENTANG TAKLUKNYA HATI “RAKSASA-RAKSASA”
Sekalipun kami tak menyadari, saat kami berada di gurun pasir,
kejadian-kejadian membayang kembali bagai gumpalan-gumpalan awan
mengelilingi kami. Itu benar, kami jauh terseret ke lembah kesengsaraan
yang amat dalam, cobaan-cobaan lain pun nampaknya akan segera menyusul,
namun setitik harapan menghampar di hadapan kami. Hamzah dan Umar
memeluk agama Islam...
Tunduknya hati kedua orang itu hingga
memeluk Islam sungguh mengejutkan, karena peristiwanya diawali dengan
kegusaran dan wajah penuh kemarahan. Beginilah kisah yang dijalani
Hamzah. Dia adalah paman Nabi, seorang laki-laki tinggi dan tegap yang
disegani di segenap gurun pasir sebagai pemburu singa dan seorang
pendekar perang. Dalam pertempuran, tak ada pedang yang lebih berat, tak
ada tombak yang lebih cepat, tak ada panah yang lebih mematikan,
kecuali senjata-senjata miliknya. Begitu juga dalam berburu, tak ada
seorang pun yang lebih berani, lebih sigap langkahnya atau lebih peka
penglihatan dan penciumannya dari Hamzah sang pemburu singa. Di luar
keperkasaan Hamzah, terdapat kelembutan....Hamzah yang gagah adalah
orang yang mampu menunggang kuda di padang bunga-bunga tanpa mematahkan
setangkai bunga pun. Di saat-saat tertentu, ia senandungkan puisi dengan
gaya kepahlawanan yang amat digemarinya.
Tak nampak sebersit
pun kelembutan pada diri Hamzah kala di suatu hari dia menunggang kuda
memasuki kota Makkah dan mendengar umpatan Abu Jahal bahwa Muhammad
seorang pendusta dan penipu. Saat itu Hamzah membawa singa mati dengan
taring-taring giginya yang masih lengkap dan terikat di belakang
kudanya. Namun kehadirannya itu tak cukup menghentikan ocehan Abu Jahal.
Abu Jahal tetap mengulang umpatannya dan itu berakibat buruk baginya.
Hamzah dengan busur berburu di tangan kirinya, menyibak kerumunan orang
seakan tak ada seorang pun di sana. Tak sepatah kata yang ia ucapkan,
hanya bunyi pukulan punggung busur mengenai Abu Jahal hingga
terpelanting dengan wajah yang berlumuran darah. Hamzah, sekalipun
seorang penyair, namun ia bukan orang yang suka berdebat. Ia hanya
menunjuk ke arah Ka’bah seraya mengangkat bahu dan berkata, “Ketika aku
berburu di padang pasir di tengah malam....aku tahu, Tuhan tidak berada
di dalam rumah.” Sebuah tutur kata yang sederhana. Kemudian Hamzah
berdiri tegap dengan kaki mengangkang, memandang semua yang hadir untuk
beberapa saat. “Agama keponakanku adalah agamaku...Tuhannya adalah
Tuhanku. Siapa yang berani, lawanlah aku.” Tak seorang pun yang bergerak
kecuali menyisihkan jalan bagi Hamzah yang pergi menemui Muhammad...
Beberapa waktu kemudian, seorang laki-laki yang lain dengan pedang di
tangan, dan nafsu membunuh dalam benaknya, berjalan cepat mencari
Muhammad. Dia juga ingin menamatkan Islam dengan satu tebasan. Dialah
Umar ibn Khathab, yang tubuhnya begitu tinggi dan tampak tegap
menjulang. Menurut kabar, ia mampu menaiki unta dengan satu loncatan,
yang memang sesuai dengan yang biasa ia lakukan karena ia seorang pemuda
petualang yang penghidupannya dari menyelundupkan rempah-rempah dan
batu mulia menyeberangi perbatasan dengan Bizantium. Ia mempunyai
tingkah laku yang buruk seperti untanya...
Kala itu Nabi sedang
berdoa di rumah Arqam, tanpa senjata, tanpa perlindungan, sewaktu Umar
datang bergegas menelusuri jalan. Aku lari menemui Muhammad untuk
memberitahukannya, kukira ia akan panik ketakutan dengan kabar baru yang
kubawa itu. Namun, ia hampir tidak bergerak sedikit pun. “Tuhanlah yang
menentukannya, kapan Umar menemuiku,” katanya...
Aku bisa
memandang Umar melalui jendela...kilatan pedangnya yang terhunus,
tubuhnya yang tinggi tegap akan membungkuk bila masuk rumah. “Tuhan
telah menentukan,” gumamku, “untuk itu sekarang dia ada di sini.”
Mataku kulayangkan ke segala arah mencari senjata, namun tak satu pun
yang kulihat, selain sebelanga air mendidih di atas nyala api. Segera
kugenggam periuk air itu untuk ditumpahkan di pintu. Nabi kemudian
berdiri, nampaknya ia hendak menahan tindakanku daripada untuk
melindungi dirinya sendiri. “Terimakasih Bilal”, katanya...lalu
diambilnya air mendidih itu dariku, “seandainya saat ini adalah saat
yang ditentukan Tuhan untukku, minyak mendidih sekalipun tak akan
menolongku.” Setidak-tidaknya itulah ucapan Muhammad yang masih tersisa
dalam ingatanku, jangan terlalu mengharapkan dari ingatanku yang
lemah...karena sekarang ini apa pun yang kau katakan sebagai ucapan Nabi
akan menjadi ajaran agama...
Umar berada sekitar lima puluh
langkah lagi dari pintu, atau kalau menurut ukuran langkahnya sekitar
empat puluh langkah, tiba-tiba seorang lelaki tua maju menghampirinya.
Kupikir ia adalah seorang pengemis, orang yang meminta-minta pada waktu
yang tidak tepat. Karena sekalipun Umar sedang marah, ia dikenal sebagai
orang yang murah hati. Namun saat itu ia tak memberikan apa-apa selain
luapan kemarahannya. Ia angkat laki-laki tua itu dan mengguncangnya,
mengumpat dan menyumpah semua wanita yang sudah mati terkubur bahwa ia
akan membunuh wanita itu....ini sangat melegakanku sebab bukan membunuh
Nabi. Lalu Umar serta merta berbalik ke arah mana ia datang seolah iblis
sendiri yang menariknya.
Aku tahu bahwa kejadian itu belum
berakhir. Umar tak pernah melakukan pekerjaan setengah-setengah, untuk
membunuh Nabi sekalipun. Karena itu kutunggu dia dekat jendela dalam
perasaan yang tidak menentu. Arqam telah datang,...setidaknya sekarang
kami bertiga, namun untuk menjaga keamanan, aku memegang sesuatu di
tanganku, aku raih air mendidih. Aku ingin memanggil Hamzah, namun ia
ada di tengah gurun. Kukira, kami berada dalam keadaan terkepung.
Sejam berlalu...kulihat ia datang kembali menyusuri jalan dengan
pedangnya yang masih terhunus. Tanpa diperintah aku bergegas menutupkan
pintu dan menguncinya. Nabi menghampiriku dari belakang, “Mengapa pintu
kau tutup, Bilal?” sapanya. “Untuk menyelamatkanmu dari pembunuhan, ya
Nabi”, jawabku. Namun dia memandangku dengan pandangan yang
sungguh-sungguh. “Seorang Nabi tak akan menutupkan pintunya, Bilal.
Bukalah jika engkau merasa takut kepada Tuhan...”
Muhammad
berdiri menanti di tengah ruangan. Aku dengar ujung pedang memukul daun
pintu. Namun ramalan yang terbukti adalah ramalan terbaik. Kubuka pintu
itu sebagaimana diperintahkan kepadaku. Umar membungkuk untuk dapat
masuk. Aku tak bisa percaya dengan apa yang terjadi. Umar memandang ke
arah Nabi,...ke arahku,...ke arah Arqam, dan menunduk memandang
pedangnya. Pergulatan batin terjadi dalam dirinya....kepedihan
menyelimuti wajahnya. Ia membuka bajunya sebagaimana ia membuka hatinya.
“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi, engkau
Muhammad, utusan Allah.”
Kejadian ini persis kala Isa
mendapatkan Paulus, dan Muhammad mendapatkan Umar. Sudah tentu bila kami
berbicara mengenai “pertaubatan” baik pada Paulus maupun Umar, kami
kira lebih baik menyebutnya sebagai “revolusi”, karena kedua pertaubatan
itu menimbulkan akibat yang sangat besar. Keduanya berangkat dengan api
kemarahan yang membara. Umar hendak membunuh Nabi, Paulus hendak
membunuh Isa. Bahkan sebagaimana cerita yang sampai kepadaku, Paulus
sempat bergandengan dengan mereka yang membunuh Stefen, syuhada pertama,
yang merupakan perbuatan menyentuh api. Namun Tuhan menarik keduanya
dari tepi neraka, dan menjadikannya pemimpin besar agama.
Sebagaimana yang kukisahkan, aku hanya melihat perubahan yang besar
terjadi pada Umar, suatu permulaan yang teramat buruk dan berakhir
dengan baik sekali. Aku tak melihat adanya mukjizat dalam kejadian yang
berselang satu jam itu. Keterangan itu kudapatkan dari Khabbab, seorang
pandai besi yang hadir di sana, seorang yang dapat dipercaya sebagaimana
baja hasil tempaannya.
Laki-laki yang menghentikan Umar di
tengah jalan itu bukan pengemis, sebagaimana dugaanku, melainkan
pedagang anggur, karena Tuhan mengirimkan orang-orang munafik dan
pendosa sebagai penolong, setidaknya di saat engkau mengharapkannya.
“Kenapa kau hunus pedangmu?” tanya orang tua itu.
“Untuk membunuh orang sombong yang telah menempatkan dirinya di atas dewa-dewa,” jawab Umar.
“Pulanglah, bunuhlah terlebih dulu adik perempuanmu, “ jawab orang tua itu.
Jawaban orang tua itu sangat bijaksana pada saat yang tepat, dan Umar
hanya setengah memahaminya, namun itu telah cukup memancing amarahnya
sebagaimana kusaksikan dari seberang jendela. Umar sangat mencintai adik
perempuannya, namun orang tua itu telah menyuguhkan teka-teki yang
membuat kegilaannya semakin gila...
Ia bergegas pulang dan
mengintai dari balik pintu rumah adiknya. Dia mendengar suara dan
menangkap kata-kata yang menurut pikirannya membingungkan. Dengan sekali
terjang, ditendangnya pintu hingga roboh. Seorang laki-laki setinggi
tujuh kaki dengan pancaran kemurkaan yang sangat menakutkan, dengan
pedang terhunus yang berkelebat di atas kepalanya. Di dalam, ia dapati
saudaranya Fatimah, serta suaminya Said, dan saksi cerita ini Khabbab.
Fatimah berusaha menyembunyikan carikan tulisan di bawah gaunnya.
Kemudian Umar dengan keras menampar wajah adiknya, sehingga
terjengkang...dirampasnya carikan tulisan itu di antara dua lutut
adiknya.
Umar tak tahu menahu, dan hanya Nabi sendiri yang
tahu, bahwa adiknya secara sembunyi-sembunyi telah menjadi pengikut
ajaran Nabi. Apa yang kini digenggamnya adalah ayat Al-Qur’an, surah
ke-20. Surah yang teramat indah dan penuh misteri sehingga tak satu
orang pun dapat memberikan nama yang tepat untuknya. Tafsirnya biarlah
tetap tersirat di ayat itu saja, karena terlalu sulit untuk
diterjemahkan, dan di luar jangkauan syairmu...
"Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)"
Umar berdiri dengan cabikan ayat di tangannya dan menatap adiknya yang
berlindung di pelukan suaminya dengan cucuran darah di mukanya.
Dibenturkanlah kepalanya ke dinding dalam balutan penyesalan. “Apa yang
telah kau perbuat terhadapku?”, ia bertanya. Pertanyaan yang menggelikan
sekaligus mengherankan. Fatimah yang telah belepotan darah, terlalu
takut untuk menjawab. Kemudian Umar mengembalikan carikan tulisan itu
kepada Fatimah sebagai permohonan maaf. “Bacalah untukku,” katanya,
“jika ini dapat mengobati terkoyaknya persaudaraan kita, maka bacakan
itu untukku.”
Namun jari tangan Fatimah kaku terkulai, oleh
sebab itu Khabbab, seorang yang mampu menempa besi menjadi sebentuk
sayap burung, mengambil carikan tersebut dan membacakannya. Begitu Umar
mendengarnya, suatu pesona menyentuh relung hatinya. Diperhatikannya
gerak bibir Khabbab, begitu takjubnya mendengar kalimat-kalimat Allah
dialunkan. Umar sendiri mengatakan kepadaku bahwa tiba-tiba ia terbenam
dalam keharuan hingga bergetar seluruh tulang sumsumnya....
Demikianlah kisah takluknya hati Umar yang kini menjadi pemimpin umat Islam...(bersambung)
***********
Subhaanallaah, walhamdulillaah, wallaahu Akbar
Wallaahu a’lamu bishshawwaab
